Jakarta, — Lmpnews. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober bukan semata-mata menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah bangsa. Di tengah perubahan zaman, makna “kesaktian” Pancasila juga menghadapi bentuk ujian yang semakin beragam.
Ketua Umum Laskar Merah Putih (LMP), H.M. Arsyad Cannu, memandang bahwa tantangan Pancasila pada masa kini tidak lagi identik dengan ancaman fisik atau kudeta bersenjata sebagaimana yang pernah dihadapi Indonesia pada masa lalu.
Menurutnya, ujian terhadap Pancasila kini hadir dalam bentuk yang lebih kompleks, mulai dari polarisasi sosial, disinformasi digital, radikalisme, intoleransi hingga krisis moral.
“Kesaktian Pancasila pada kondisi saat ini bukan lagi hanya tentang menghadapi ancaman fisik atau kudeta bersenjata seperti di masa lalu, tetapi bagaimana Pancasila mampu membentengi bangsa dari berbagai tantangan modern,” ujar H.M. Arsyad Cannu.Kamis, (1/10/2026).
Perang Narasi di Era Digital
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat adalah derasnya arus informasi di ruang digital. Media sosial memberikan ruang luas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat, tetapi pada saat yang sama juga dapat menjadi tempat berkembangnya hoaks, ujaran kebencian dan provokasi.
Dalam kondisi tersebut, nilai-nilai Pancasila dinilai semakin penting untuk menjadi pedoman dalam menggunakan teknologi dan media sosial.
Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, mengingatkan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Sementara Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan pendapat.
“Jangan sampai jempol kita di media sosial justru menjadi alat yang melukai persatuan bangsa. Perbedaan pilihan, pendapat dan pandangan harus disikapi dengan kedewasaan,” katanya.
Pancasila sebagai Benteng Kebhinekaan
Tantangan lainnya adalah munculnya berbagai paham yang dapat berpotensi mengikis nilai kebangsaan dan kebhinekaan.
Di tengah globalisasi, masyarakat semakin mudah berinteraksi dengan berbagai pemikiran dari seluruh dunia. Keterbukaan tersebut memiliki banyak manfaat, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk menyaring informasi dan nilai yang masuk.
Dalam konteks ini, Pancasila dapat menjadi pijakan bersama agar keterbukaan tidak membuat bangsa kehilangan jati dirinya.
Indonesia, dengan keberagaman suku, agama, bahasa dan budaya, membutuhkan nilai bersama yang mampu menjaga kehidupan kebangsaan tetap berada dalam semangat persatuan.
Keadilan Sosial Menjadi Ujian Nyata
Selain persoalan digital dan ideologi, H.M. Arsyad Cannu menilai pengamalan Pancasila juga harus terlihat dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menjadi salah satu ukuran penting dalam melihat sejauh mana nilai Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Pemerataan kesejahteraan, pengurangan kesenjangan sosial serta penegakan hukum yang adil bukan sekadar persoalan kebijakan, tetapi bagian dari upaya mewujudkan nilai Pancasila secara nyata.
“Pancasila jangan hanya berhenti sebagai hafalan atau slogan dalam upacara. Nilai-nilainya harus hadir dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam persoalan keadilan, kesejahteraan dan penegakan hukum,” tegasnya.
Kesaktian yang Harus Terus Dihidupkan
Bagi H.M. Arsyad Cannu, kekuatan Pancasila justru terletak pada kemampuannya untuk tetap menjadi titik temu bangsa Indonesia di tengah perubahan zaman.
Karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum 1 Oktober dapat menjadi kesempatan untuk kembali melihat bagaimana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan nyata.
Kesaktian Pancasila, dalam perspektif tersebut, bukan sesuatu yang cukup dibuktikan melalui sejarah masa lalu. Ia harus terus dijaga dan diwujudkan melalui sikap masyarakat dan kebijakan negara.
Di tengah derasnya arus informasi, perbedaan politik dan sosial, serta berbagai tantangan global, Pancasila kembali menghadapi ujian dalam bentuk yang berbeda.
Tantangannya kini bukan hanya mempertahankan negara dari ancaman yang terlihat, tetapi juga menjaga persatuan dari sesuatu yang kadang bekerja secara perlahan: narasi kebencian, disinformasi, intoleransi, ketidakadilan dan lunturnya kepedulian terhadap sesama.
Hari Kesaktian Pancasila akhirnya menjadi pengingat bahwa Pancasila akan tetap kuat ketika tidak hanya diucapkan, tetapi benar-benar diamalkan.***








Tinggalkan Balasan