Maulid Nabi Momentum Introspeksi: H.M. Arsyad Cannu Ajak Umat Teladani Akhlak Rasulullah


Jakarta – LMPNews.Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal menjadi momen penuh makna bagi umat Islam di seluruh dunia. Di Indonesia, Maulid Nabi bukan hanya dirayakan sebagai seremonial keagamaan, tetapi juga sebagai momentum untuk menggali kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Umum Laskar Merah Putih (LMP), H.M. Arsyad Cannu, menyampaikan bahwa Maulid Nabi harus dijadikan sebagai momen introspeksi dan transformasi diri, bukan sekadar perayaan formal.

“Nabi Muhammad SAW adalah teladan sempurna dalam segala aspek kehidupan. Baik sebagai pemimpin, suami, ayah, sahabat, maupun sebagai hamba Allah yang paling taat. Kita harus menjadikan Maulid ini sebagai cermin untuk menilai dan memperbaiki diri kita sendiri,” ujar H.M. Arsyad Cannu di Jakarta, Kamis (4/9/2025).

Tradisi yang Sarat Makna

Maulid Nabi telah menjadi bagian dari tradisi keagamaan umat Islam selama berabad-abad. Meski ada perbedaan pandangan tentang praktik perayaannya, sebagian besar umat Muslim merayakannya dengan kegiatan positif seperti:

Pembacaan selawat dan maulid

Khataman Al-Qur’an

Kajian sirah Nabawiyah (sejarah hidup Rasulullah)

Kegiatan sosial dan amal kepada masyarakat

Bagi Arsyad Cannu, inti dari peringatan Maulid bukan pada kemeriahannya, melainkan penghayatan terhadap nilai-nilai luhur yang dibawa Rasulullah SAW.

“Apa arti perayaan jika tidak membawa perubahan dalam perilaku kita? Nabi datang membawa rahmat bagi seluruh alam, dan kita sebagai pengikutnya harus menjadi pembawa rahmat pula—setidaknya bagi lingkungan terdekat kita,” tegasnya.

Maulid Nabi Sebagai Gerakan Moral dan Sosial

Dalam konteks bangsa Indonesia yang majemuk, peringatan Maulid Nabi juga dapat menjadi jembatan persatuan dan gerakan moral. Nilai-nilai universal dari ajaran Rasulullah seperti kejujuran, kasih sayang, keadilan, dan kepedulian sosial sangat relevan diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai pimpinan organisasi kemasyarakatan, Arsyad Cannu berharap umat Islam, khususnya generasi muda, dapat menjadikan Maulid Nabi sebagai pemicu perubahan diri dan sosial.

“Mari kita jadikan Maulid Nabi sebagai ajang memperkuat komitmen moral. Jangan hanya kagum pada Rasulullah, tapi jadilah pribadi yang meneladaninya,” pungkasnya.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, keteladanan Rasulullah SAW tetap menjadi kompas moral bagi umat Islam. Maulid Nabi bukan hanya mengenang sejarah, tapi juga menghidupkan nilai-nilai profetik dalam kehidupan nyata.

Sebagaimana yang disampaikan oleh H.M. Arsyad Cannu, peringatan ini harus menjadi titik tolak bagi perubahan diri dan sosial yang lebih baik, demi membentuk masyarakat yang lebih beradab, bermoral, dan penuh kasih sayang—sebagaimana yang diajarkan oleh Sang Nabi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *