Jakarta – Lmpnews.Bayangin ya… ada satu organisasi besar, penuh sejarah dan semangat kebangsaan, tapi beberapa waktu terakhir malah sibuk “berantem” di dalam. Dua kubu, dua kepemimpinan, sama-sama merasa paling benar. Dan jujur aja… itu bikin suasana jadi nggak sehat.

Nah, akhirnya… di tanggal 21 April 2026 di Jakarta.momentum hari Kartini ” HABIS GELAP TERBITLAH TERANG, ada titik terang juga.

Dua tokoh utamanya, Muhammad Arsyad Cannu dan Ade Erfill Manurung, sepakat buat duduk bareng. Bukan buat debat lagi, tapi buat menyudahi semuanya. Mereka tanda tangan kesepakatan penggabungan kepengurusan. Simpel sih di atas kertas, tapi dampaknya besar banget.

Soalnya ini bukan cuma soal siapa pegang jabatan, tapi soal nyelametin organisasi biar nggak makin terpecah.

Kalau dipikir-pikir, dualisme kayak gini tuh bahaya. Lama-lama bisa bikin organisasi kehilangan arah, bahkan kehilangan kepercayaan. Makanya keputusan buat bersatu lagi ini bisa dibilang langkah yang… ya, akhirnya dewasa juga.

Dalam kesepakatan itu, ditegaskan kalau Arsyad Cannu jadi Ketua Umum yang sah untuk periode 2025 sampai 2030. Dan yang menarik, Ade Erfill Manurung juga secara terbuka mengakui itu. Nggak setengah-setengah, tapi penuh.

Bahkan dia juga bilang nggak akan maju jadi Ketua Umum selama periode itu masih berjalan. Itu bukan hal kecil, lho. Itu bentuk komitmen biar organisasi bisa tenang, nggak terus-terusan diwarnai persaingan.

Di sisi lain, Arsyad juga nggak tinggal diam. Dia punya tugas besar: merangkul semuanya. Dari pusat sampai daerah, dari Mabes sampai cabang-cabang. Intinya, semua kader diajak balik ke satu barisan, tanpa ada yang disisihkan.

Dan biar nggak cuma jadi wacana, mereka juga sepakat bikin tim khusus buat ngawal proses rekonsiliasi ini. Jadi bukan sekadar damai di atas kertas, tapi benar-benar dijalankan sampai ke bawah.

Menariknya lagi, Ade Erfill Manurung juga tetap dilibatkan. Dia dipercaya pegang posisi penting  organisasi. Jadi ya… bukan disingkirkan, tapi justru diajak tetap berkontribusi, dengan peran yang strategis.

Kalau dipikir-pikir, ini contoh yang cukup jarang ya… konflik internal yang berakhir bukan dengan saling menjatuhkan, tapi dengan saling menerima.

Sekarang tinggal satu hal yang jadi pertanyaan: setelah ini, apakah benar-benar bisa solid?

Karena jujur aja… damai itu gampang diucapin, tapi menjaganya, itu yang sering jadi tantangan sebenarnya.LMP rumah besar semangat merah putih.carita Indonesia dan anak bangsa.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *