Jalan Sunyi : R.M. Panji Sosrokartono“Sugih tanpa bondo, digdaya tanpa aji-aji.”(Kaya tanpa harta, sakti tanpa kesaktian)


Jakarta – Lmpnews.Setiap tanggal 21 April, nama R.A. Kartini kembali menggema. Sosoknya menjadi simbol emansipasi perempuan, cahaya yang menerangi jalan bagi kesetaraan. Namun di balik terang itu, ada sosok lain yang sering luput dari sorotan seorang kakak, seorang jenius, seorang manusia yang memilih jalan sunyi: R.M. Panji Sosrokartono.

Sosok yang Mendahului Zaman

Lahir pada tahun 1877, Sosrokartono bukanlah orang biasa. Ia adalah pribumi pertama yang menembus batas dunia pendidikan Barat pada masanya. Ketika sebagian besar rakyat masih terkungkung kolonialisme, ia justru melangkah ke Eropa, membawa kecerdasan dan martabat bangsanya.

Kemampuannya mencengangkan: menguasai puluhan bahasa asing dan bahasa Nusantara. Bukan sekadar pintar, ia adalah jembatan antarbangsa. Di tengah dunia yang terpecah oleh perang, Sosrokartono hadir sebagai penghubung, penerjemah, dan diplomat.

Dari Medan Perang ke Meja Diplomasi

Saat Perang Dunia I berkecamuk, ia tidak mengangkat senjata. Ia memilih pena. Menjadi wartawan untuk The New York Herald, ia menulis dari garis depan, namun tetap memegang prinsip damai.

Ketika diberi pangkat mayor oleh Sekutu, ia menolak membawa senjata. Baginya, kekuatan sejati bukan pada peluru, melainkan pada pikiran dan kemanusiaan.

Kemampuannya sebagai penerjemah bahkan membawanya ke panggung dunia—menjadi bagian dari Liga Bangsa-Bangsa, cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di sana, ia berdiri sejajar dengan para intelektual dunia, bahkan melampaui mereka.

Pulang untuk Mengabdi

Tahun 1925, ia kembali ke tanah air. Tidak membawa kekayaan, tidak mengejar jabatan. Bersama Ki Hajar Dewantara, ia terjun ke dunia pendidikan, mencerdaskan anak bangsa.

Namun hidupnya tidak berhenti di ruang kelas. Ia membuka “Klinik Darussalam,” tempat orang-orang datang bukan hanya untuk berobat, tetapi juga mencari harapan. Metodenya mungkin tak lazim, tetapi ketulusannya nyata.

Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno dan Mohammad Hatta pun mengakui kejeniusannya. Ia adalah guru dalam diam, pemikir tanpa panggung.

Hidup Sederhana, Warisan Luar Biasa

Ironisnya, di akhir hidupnya, Sosrokartono tidak meninggalkan harta. Tidak ada kemewahan, tidak ada pusaka. Ia wafat pada tahun 1951 dalam kesederhanaan.

Namun justru di situlah letak kebesarannya.

Tulisan di batu nisannya berbunyi:

“Sugih tanpa bondo, digdaya tanpa aji-aji.”
(Kaya tanpa harta, sakti tanpa kesaktian)

Sebuah filosofi hidup yang dalam tentang kekayaan batin, tentang kekuatan sejati yang tidak terlihat.

Mengingat yang Terlupakan

Sejarah sering kali memilih siapa yang diingat dan siapa yang dilupakan. Namun bukan berarti yang terlupakan tidak berarti.

Sosrokartono adalah bukti bahwa kejayaan tidak selalu harus bersinar terang. Kadang ia hadir dalam kesunyian, dalam pengabdian, dalam ketulusan yang tidak mencari pengakuan.

Mungkin sudah saatnya, ketika kita menyebut Kartini, kita juga mengingat Kartono bukan untuk membandingkan, tetapi untuk melengkapi cerita tentang kebesaran bangsa ini.

Karena dari satu keluarga, lahir dua cahaya:
yang satu menerangi dunia perempuan,
yang satu lagi menjembatani dunia manusia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *