Jakarta, – LMPNews.Setiap akhir bulan September, bangsa Indonesia kembali mengingat salah satu babak paling kelam dalam sejarahnya Gerakan 30 September 1965, atau yang lebih dikenal dengan G30S. Peristiwa ini bukan sekadar catatan tentang gugurnya tujuh jenderal Angkatan Darat, namun juga merupakan titik kulminasi dari rangkaian panjang kekejaman yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Kita tak bisa memahami G30S hanya dari satu malam berdarah. Sejarah lebih luas dari itu. Jauh sebelum tragedi 1965, tepatnya pada 1948, PKI sudah menunjukkan wajah brutalnya melalui pemberontakan di Madiun. Ribuan nyawa melayang, bukan dalam pertempuran, melainkan dalam pembantaian. Para kyai, santri, hingga tokoh masyarakat diburu dan dibunuh. Masjid dibakar, pesantren diserang, dan para ulama dijadikan sasaran kebencian ideologis.
Peristiwa Madiun menjadi semacam prolog kelam menuju tragedi yang lebih besar. Dan benar saja, pada malam 30 September 1965, tujuh pahlawan revolusi diculik dan dibunuh secara keji. Gerakan ini bukan hanya upaya kudeta, tetapi juga menjadi gambaran nyata bagaimana ideologi yang ekstrem bisa menelan akal sehat dan nilai kemanusiaan.
Hari ini, sejarah itu menjadi pelajaran penting. G30S bukan hanya catatan masa lalu, tapi peringatan abadi. Sebuah alarm bahwa ekstremisme dalam bentuk apa pun baik itu komunisme, radikalisme, maupun fundamentalisme berkedok modernitas selalu menjadi ancaman nyata bagi keutuhan bangsa.
Ketua Umum Laskar Merah Putih, H.M. Arsyad Cannu, menegaskan pentingnya menanamkan kembali semangat cinta tanah air dan komitmen terhadap Pancasila.
“Menjaga persatuan, mencintai tanah air, dan menolak ideologi yang bertentangan dengan Pancasila adalah tugas semua anak bangsa,” ujarnya.Selasa (30/9/2025).
Ia juga mengingatkan generasi muda untuk tidak mudah terpengaruh oleh literasi yang menyesatkan. Di era digital, di mana informasi beredar bebas, kemampuan memilah dan memahami sejarah menjadi sangat krusial.
“Generasi muda harus kritis dalam memilah literasi. Jangan sampai disusupi oleh ideologi-ideologi yang memang tidak sesuai dengan jati diri bangsa,” tambahnya.
Kini, di tengah riuhnya dinamika sosial dan politik, peringatan G30S seharusnya tidak hanya menjadi rutinitas tahunan. Ia harus menjadi momen refleksi nasional sebuah pengingat bahwa kebebasan tanpa batas dan toleransi yang dibajak oleh intoleransi hanya akan membawa bangsa ini kembali ke jurang sejarah yang kelam.
Karena bangsa yang besar bukan hanya yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, tetapi yang mampu belajar dari luka lama, menjaga warisan nilai, dan melindungi masa depan dari ideologi yang pernah menghancurkan.









Tinggalkan Balasan